Banawa Sekar: Relasi Jiwa, Materi, dan Kosmologi Nusantara

Perahu Bunga

Pendahuluan: Sraddha dan Ingatan yang Bertahan

Pada tahun 1362 Masehi, dua belas tahun setelah wafatnya Gayatri Rajapatni, Prabu Hayam Wuruk menyelenggarakan upacara sraddha bagi sang nenek. Peristiwa ini tercatat dalam dua sumber penting Jawa Kuna: Negarakertagama dan kakawin Banawa Sekar.

Menariknya, kedua teks ini menghadirkan penekanan makna yang berbeda. Jika Negarakertagama menampilkan sraddha sebagai ritual pemanggilan kembali roh ke dalam arca medium, kakawin Banawa Sekar justru mengisyaratkan sebuah pelepasan—penghantaran jiwa menuju moksa. Perbedaan ini menjadi pintu masuk untuk menelisik lebih dalam makna sajen dan simbolisme Banawa Sekar.

Lebih jauh, gema peristiwa ini terasa hingga hari ini dalam tradisi nyadran yang masih dijalankan masyarakat Jawa menjelang bulan Ramadhan.

Sraddha dalam Negarakertagama: Pemanggilan Jiwa

Negarakertagama, ditulis oleh Mpu Prapanca, merupakan sumber primer paling rinci mengenai pelaksanaan sraddha pada masa Majapahit. Berdasarkan pembacaan dan penjelasan Asisi Suhariyanto, ritual ini dipimpin oleh rohaniawan istana yang telah mencapai sahasramasa—seribu bulan usia.

Inti ritual sraddha dalam Negarakertagama adalah pemanggilan roh Gayatri Rajapatni dan penempatannya ke dalam arca medium bernama Sanghyang Puspa. Dalam konteks ini, sajen dan arca berfungsi sebagai sarana kehadiran kembali jiwa leluhur di dunia material.

Sraddha dalam Kakawin Banawa Sekar: Pelepasan Jiwa

Berbeda dengan Negarakertagama, kakawin Banawa Sekar gubahan Mpu Tanakung (sekitar 1351 M) menampilkan sraddha sebagai peristiwa pelepasan jiwa. Kakawin ini terdiri dari tiga bab dan dua puluh satu bait yang melukiskan kemegahan upacara, kehadiran para bangsawan, serta ragam persembahan.

Puncak persembahan adalah Banawa Sekar—perahu yang dirangkai dari aneka bunga—yang dihaturkan langsung oleh Prabu Hayam Wuruk. Di sini, simbol perahu bunga tampil bukan sebagai wadah roh yang dipanggil kembali, melainkan sebagai wahana perjalanan jiwa.

Sajen sebagai Jembatan Sakala dan Niskala

Dalam tradisi Jawa, sajen bukan sekadar persembahan, melainkan medium komunikasi antara dunia sakala (fisik) dan niskala (non-fisik). Sajen menjadi jembatan antara manusia, leluhur, alam, dan Yang Ilahi.

Jejak sajen dapat ditelusuri sejak era klasik, sebagaimana tercermin dalam Negarakertagama dan Banawa Sekar. Kehadirannya menandakan pandangan dunia yang tidak memisahkan secara ekstrem antara jiwa dan materi, melainkan melihat keduanya sebagai satu kesatuan yang saling menopang.

Ketegangan Modernitas: Jiwa vs Materi

Tulisan ini kemudian bergerak ke ranah refleksi yang lebih luas: bagaimana modernitas, dengan fondasi positivisme dan materialisme, meminggirkan dimensi niskala. Globalisasi mempercepat proses ini, sering kali dengan dampak berupa erosi tradisi lokal, kerusakan lingkungan, dan kekosongan spiritual.

Sebagai reaksi, muncul kutub berlawanan yang menolak materialisme secara total. Kedua ekstrem ini—materialisme murni dan spiritualisme yang menafikan materi—sama-sama meninggalkan ketegangan yang belum selesai.

Filsafat Samkhya: Menjembatani Jiwa dan Materi

Untuk memahami posisi sajen dan Banawa Sekar secara lebih utuh, tulisan ini merujuk pada filsafat Samkhya, salah satu sistem filsafat tertua di India. Dalam Samkhya, realitas dibangun dari interaksi Purusha (kesadaran murni) dan Prakrti (materi/energi).

Melalui konsep 24 tattwa, Samkhya menjelaskan bahwa jiwa dan materi sama-sama fundamental. Materi bukan lawan jiwa, melainkan wahana bagi perjalanan kesadaran. Dalam kerangka ini, sajen dapat dibaca sebagai miniatur kosmos—materi yang disusun untuk mengantar jiwa menuju pembebasan.

Makna Banawa Sekar: Bahtera sebagai Wahana Jiwa

Secara etimologis, banawa berarti perahu atau bahtera, dan sekar berarti bunga. Dalam berbagai kebudayaan kuno—Mesopotamia, Mesir, India, Yunani—perahu melambangkan perjalanan jiwa melintasi alam yang berbeda.

Dalam konteks Nusantara dan tradisi Austronesia, perahu juga dipahami sebagai wahana menuju alam leluhur, simbol kesuburan, serta kendaraan spiritual. Dengan demikian, Banawa Sekar dapat ditafsirkan sebagai bahtera kosmis yang dipersembahkan untuk mengantar jiwa Gayatri Rajapatni menempuh perjalanan menuju moksa.

Sekar: Bunga, Transformasi, dan Api

Bunga, sebagai unsur kedua Banawa Sekar, melambangkan transformasi, keindahan, dan siklus kehidupan. Dalam ritual kematian, bunga sering berpadu dengan api—unsur pemurnian yang melebur pancamahabhuta agar jiwa dapat melanjutkan perjalanannya.

Rangkaian bunga dalam Banawa Sekar merepresentasikan keindahan sekaligus kefanaan, menjadi penanda transisi dari dunia material menuju alam niskala.

Nyadran: Penyambung Lidah Peradaban

Tradisi nyadran di Jawa—ziarah makam, tabur bunga, doa, dan sesajen—menunjukkan kesinambungan makna sraddha hingga masa kini. Bahkan secara linguistik, kata nyadran berasal dari sraddha.

Nyadran menjadi bukti bahwa pergantian era dan agama tidak memutus tradisi secara total, melainkan melahirkan proses akulturasi panjang di mana ingatan kosmologis tetap hidup dalam praktik sehari-hari.

Penutup: Banawa Sekar sebagai Ingatan Hidup

Banawa Sekar, pada akhirnya, bukan sekadar artefak sastra atau ritual masa lampau. Ia adalah bahasa simbolik peradaban—cara manusia Nusantara memahami kematian, kehidupan, dan perjalanan jiwa.

Melalui Banawa Sekar, kita diajak untuk membaca ulang tradisi sebagai pengetahuan hidup: jembatan antara jiwa dan materi, masa lalu dan masa kini, manusia dan semesta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *