Permaculture

Laboratorium Etnobotani

Permaculture dan Etika Bekerja Bersama Alam

Izinkan kami menggunakan etimologi kata laboratorium untuk menjelaskan program kami.

Secara etimologis, laboratorium berasal dari bahasa Latin labora, yang berarti bekerja. Dalam bahasa Jawa, bekerja memiliki padanan kata makaryo. Ketika dikembalikan ke dalam bahasa Indonesia, makaryo berarti berkarya. Dengan demikian, laboratorium—dalam pengertian paling sederhana—adalah tempat bekerja, tempat berkarya, sekaligus ruang untuk mencoba, mengamati, dan belajar. Ia bukan semata ruang tertutup dengan peralatan ilmiah, melainkan medan praktik tempat pengetahuan diuji melalui pengalaman langsung.

Pendekatan ini berpijak pada prinsip-prinsip permaculture, yakni merawat bumi (earth care), merawat manusia (people care), dan membagi secara adil (fair share). Prinsip-prinsip tersebut diterjemahkan ke dalam praktik nyata: mengamati sebelum bertindak, merancang sistem yang saling menopang, memanfaatkan sumber daya lokal, serta membangun ekosistem yang regeneratif dan berkelanjutan.

Yayasan Kalpawreksa mengelola lahan seluas 8 hektare di Wonosalam sebagai ruang pembelajaran jangka panjang permaculture. Pengembangan lahan dirancang secara bertahap dengan memperhatikan kondisi ekologis setempat—kontur tanah, aliran air, keanekaragaman hayati, serta relasi dengan masyarakat sekitar.

Peta lahan

Desain

Desain permaculture di wilayah Wonosalam, Jawa Timur. Keseluruhan lahan 8 ha.

Tahap I akan dilaksanakan pada Januari - April 2026 pada lahan seluas 2 ha di Zona 1 dan 3.

Desain
Zona 1 Zona 3

Zona 1

Zona 1

Tahap I (Januari - April 2026)

Zona 3

Zona 3

Tahap I (Januari - April 2026)